Cerita Fahri, Bocah Diffabel Bertahan Satu Kaki di Dua Bencana

  • Bagikan
Fahri (kanan) memegang kaki palsu bersama tantenya, Indah di rumahnya di Blok Y No. 21 Perumahan Buddha Tzu Chi, Tondo I, Kota Palu. (Foto: Patar)

PALU, Kabar Selebes – Fahri (13 tahun) memang kuat. Wajahnya sumringah dan selalu tersenyum tatkala menerima tamu. Bocah ini dua kali tertimpa bencana. Pertama, dia menjadi korban bencana likuifaksi 28 September 2018 dan kaki kanannya harus diamputasi.

Saya tidak ingat lagi,” kata Fahri.

Keduanya kini menempati rumah hunian tetap di Blok Y Nomor 21, Perumahan Cinta Kasih bantuan Buddha Tzu Chi Tondo I, bersama Indah, tantenya. Kini sudah kelas VIII di Madrasah Tsanawiyah Kota Palu.

Anak dari pasangan Sudarto-Asmawati (meninggal korban likuifaksi di Balaroa) ini ‘diambil’ Indah setelah bencana.

Fahri mengaku sudah beberapa orang yang datang menemuinya untuk membantu kaki palsu. Dia mengaku senang.

Soal kaki palsu, kata Indah, sudah pihak non goverment organization (NGO) dari Jakarta yang membantu. “Namun harus diganti tiap dua tahun karena mengikuti pertumbuhan badan Fahri,” kata Indah.

Fahri juga sempat mendapat bantuan kaki palsu dari perusahaan-perusahaan yang ada di Kota Palu dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

“Sempat juga datang ibu anggota dewan menanyakan soal kaki palsu dan bantuan-bantuan lain,” kata Indah.

Setelah Corona mewabah di Kota Palu, Indah juga tertular.

“Awalnya saya kehilangan perasa. Saya tidak kuat makan buah yang asam. Yapi saat itu saya makan jeruk tapi tidak merasakan rasa asamnya,” kata Indah.

Saat itu Fahri sempat melihat saya makan jeruk tapi tidak seperti biasanya. “Mama Indah tidak merasakan asam?,” tanya Fahri.

Dari situlah Indah lebih banyak di kamar dan Fahri tidur di ruang tamu beralas kasur.

Dalam kondisi diffabel, Fahri dengan penuh keikhlasan dan tulus menjaga dan menemani tantenya yang menjalani isolasi mandiri. Begitupula setiap relawan Posko Relawan Covid-19 Roa Jaga Roa melayani paket makan siang dan malam, Fahrilah yang selalu menerima paket itu.

Staf Khusus Kementerian Pertanian RI, Yesiah Erick Tamalagi terharu saat mengantarkan paket siang untuk Indah. Fahri membuka pintu dan tersenyum menerima paket.

Kata Erick –sapaan akrabnya, bisa saja Fahri tidak pernah memikirkan soal kaki palsu atau ada orang yang memikirkan kondisinya itu.

“Tetapi kita-kitalah yang harus memikirkan dan membantunya untuk segera mendapatkan kaki palsu. Bisa jadi itu akan menjadi hadiah terindah baginya setelah tiga tahun bencana memilukan itu,,” ujar Erick.

“Tiga tahun lalu adek kita (Fahri) adalah korban likuifaksi, sekarang dengan penuh keikhlasan dia merawat tantenya yang terkena covid .. Jadi ?? Adakah 28 September ini buat adek kita ??,” tulis Erick Tamalagi di WA grup Roajagaroa.(ptr)

Laporan : Pataruddin

Silakan komentar Anda Disini….
  • Bagikan