Umat Hindu di Sulteng Gelar Upacara Ngaben Massal untuk Korban Covid-19

  • Bagikan
Sejumlah umat Hindu mengikuti prosesi upacara ngaben massal di Pura Prajapati Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (07/10/2021). (Foto: Adi Pranata)

PALU, Kabar Selebes – Umat Hindu di Sulawesi Tengah melaksanakan ritual adat Ngaben massal (Ngerit) di Pura Prajapati, Kota Palu. Ritual adat yang dilakukan secara kolektif ini dilaksanakan pada waktu tertentu. Jika sebelumnya acara yang sama diperuntukan bagi korban gempa Palu, ritual kali ini diperuntukan terutama bagi mereka yang menjadi korban Covid-19.

“Yang ikut ini ada 36 sawo atau jenazah yang sebelumnya sudah dikremasi tapi belum dibikinkan ritual sebab pandemi Covid-19,” kata ketua panitia Ngaben massal, Wayan Darmadi, Kamis (07/10/2021).

Prosesi ngaben massal dilaksanakan selama dua hari yakni dari tanggal 07-08 Oktober 2021. Darmadi bilang, puluhan umat yang mengikuti ini berasal dari Kabupaten Morowali, Donggala, Parigi Moutong, dan Kota Palu.

Dari 36 jenazah yang didoakan, Darmadi menuturkan 6 di antaranya adalah mereka yang meninggal sebab Covid-19. Sementara puluhan lainnya ada yang meninggal di dalam janin tetapi belum sempat dibikinkan ritual adat.

Pelaksanaan ngaben massal dilakukan dengan dua prosesi yang berbeda. Khusus korban Covid-19, terlebih dahulu dimandikan sesuai adat agama Hindu atau Atiwa-tiwa sebab sebelumnya langsung dilakukan proses kremasi.

Darmadi mengatakan, di hari pertama pelaksanaan ritual yang dilakukan adalah prosesi ngeplugin atau membangkitkan arwah mereka yang sudah meninggal. Berdasarkan kepercayaan umat Hindu, arwah yang sudah dibangkitkan itu kemudian ditempatkan atau di stanakan kepada sebuah wadah yang dibawa masing-masing keluarga.

“Dalam umat Hindu itu ada dua macam, ada yang menggali tulang. Tapi kita melakukannya secara simbolis saja,” ucap Darmadi.

Wadah itu, lanjut Darmadi, kemudian di tempatkan kepada sebuah petak yang telah disediakan. Di tempat itu nantinya para keluarga korban bisa mengaturkan sesajen seperti makanan dan minuman. Selain itu, keluarga juga membikin ritual adat lain seperti otonan atau acara setiap 6 bulan sekali.

Darmadi pun mengatakan, sebab pandemi peserta yang mengikuti ritul adat ini dibatasi jumlahnya. Pelaksanaanya dilakukan dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang ketat.

“Kita pilih di hari-hari tertentu. Kalau di hari-hari normal sebelum pandemi diaben itu harusnya langsung selesai, tapi karena Covid ada beberapa jenazah yang tidak bisa dilakukan, maka hari inilah pelaksanaanya wajib dilakukan,” jelasnya.

Sebagai informasi, upacara ngaben biasanya membutuhkan biaya hingga puluhan juta rupiah. Olehnya ngaben massal bagi warga setempat secara tidak langsung mengurangi beban ekonomi sebab hanya memakan biaya yang minim terlebih di masa pandemi Covid-19.

Ngaben juga diketahui menurut kepercayaan umat Hindu wajib dilakukan, agar arwah yang meninggal dapat diterima Sang Hyang Widhi dalam keadaan suci. (ap)

Laporan : Adi Pranata

Silakan komentar Anda Disini….
  • Bagikan