Tiga Tahun Pemerintahan Tahajud di Morowali, Bangkit di Tengah Pandemi

  • Bagikan

MOROWALI, Kabar Selebes – Pada September 2018 atau tiga tahun silam, Taslim dan haji Najamudin (Tahajud) dilantik Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Longki Djanggola, sebagai Bupati dan Wakil Bupati Morowali untuk periode 2018-2023.

Seiring berjalannya waktu, pada September 2021, pemerintahan Tahajud telah memasuki tiga (3) tahun dalam menahkodai daerah Tepe Asa Moroso. Dalam menjalankan pemerintahan di Morowali, Tahajud mengusung slogan “Sejahtera Bersama” sesuai visi dan misi yang diemban untuk memajukan daerah dan mensejahterakan masyarakat.

Pemerintahan Tahajud yang dimulai pada September 2018, tepat memasuki masa Pandemi atau Corona virus Desease 2019 (Covid-19). Dan harus mengurus masyarakat yang tersebar di 119 desa dari sembilan (9) kecamatan yang ada di Morowali.

Lalu, apa saja yang telah dilakukan Tahajud, serta bagaimana kondisi daerah dan masyarakat dalam tiga tahun terakhir?

Pasca pelantikan pada September 2018 hingga memasuki 2019, Tahajud fokus dalam memacu peningkatan penerimaan daerah melalui pendapatan asli daerah (PAD). Ini yang menjadi salah satu misi Tahajud dalam mengawali pemerintahan.

“Beberapa sektor yang didorong seperti izin perpanjangan tenaga kerja asing (TKA), bangunan industri harus memiliki izin mendirikan bangunan (IMB), serta peningkatan pajak dan retribusi lainnya,” kata Bupati Morowali, Taslim, saat berdiskusi dengan KabarSelebes.id di Rumah Jabatan (Rujab) baru-baru ini.

Pada 2019,  kata dia, ada beberapa program unggulan yang mulai dilaksanakan. Diantaranya; pembangunan rumah layak huni sebesar Rp50 juta, infrastruktur jalan di Kecamatan Menui Kepulauan sebesar Rp57 miliar secara multi years.

Selain itu, honor pegawai harian lepas (PHL) Pemda sesuai upah minimum kabupaten (UMK) untuk Sarjana sebesar Rp2,1 juta dan SMK sederajat sebesar Rp1,7 juta. Menaikkan insentif pengurus rumah ibadah. Anggaran untuk kelurahan sebesar Rp1 miliar.

Untuk nelayan diberikan bantuan perahu (fiber) dan mesin. Begitu juga untuk 6 pesantren tahfiz qur’an diberikan bantuan sebesar Rp1 miliar. Serta bantuan biaya pendidikan bagi santri di Yaman.

Memasuki 2020, Tahajud melakukan langkah-langkah peningkatan PAD. Upaya itu terbukti memberikan hasil yang baik. Ditunjukkan dengan peningkatan PAD yang mencapai sebesar Rp310 miliar, dari sebelumnya hanya mencapai kurang lebih Rp170 miliar.

“Hal itu dilakukan unruk mempercepat pelaksanaan program-program prioritas dan unggulan,” ungkap Taslim.

Ada sejumlah program yang telah disiapkan pelaksanaannya. Diantaranya adalah alokasi dana modal usaha untuk BUMDes sebesar Rp200 juta, program bantuan 2.000 unit rumah layak huni bagi masyarakat khususnya di wilayah pesisir dan kepulauan, serta beberapa program lainnya.

Pada Desember 2020, keuangan daerah menunjukkan surplus sebesar Rp27 miliar. Selama tiga tahun opini pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tetap meraih opini wajar tanpa pengecualian (WTP).

Selanjutnya, pada 2021, perekonomian Morowali tumbuh sebesar 28,93 persen. Secara Nasional mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,07 persen dan Sulawesi Tengah sebesar 4,36 persen. Terjadi perbaikan perekonomian di Morowali.

“Di tiga tahun pemerintahan Tahajud belumlah sempurna, namun saat ini kami telah meletakkan pondasi yang baik unruk menjadi pijakan selanjutnya,” tutup Taslim. (ahl)

Laporan: Ahyar Lani

Silakan komentar Anda Disini….
  • Bagikan