Andreas Atmaji, Jaksa Pertama yang Berhasil Menginjakkan Kaki di Desa Menyoe

MORUT, Kabar Selebes – Ini pengalaman luar biasa bagi Andreas Atmaji, SH. Kepala Cabang Kejaksaan Negeri Kolonodale tersebut berhasil menginjakkan kaki di Desa Menyoe, daerah paling terpencil di Kabupaten Morowali Utara.

Desa ini dikenal sebagai daerah pemukiman suku Wana. Secara geografis tercatat sebagai salah satu dari 17 desa di Kecamatan Mamosalato.

Jarak Menyoe dari ibukota kecamatan hanya sekitar 32 kilometer. Namun, dalam kondisi musim hujan seperti saat ini untuk mencapai desa itu bisa memakan waktu dua sampai tiga hari baru bisa tembus.

Desa Menyoe atau warga setempat juga biasa menyebutnya Paramba terletak di kawasan pegunungan. Untuk ke sana harus melewati daerah pegunungan yang terjal.

Dalam kondisi musim panas mobil double gardan biasanya bisa tembus dalam sehari. Namun jika musim hujan jalan berlumpur dan penuh kubangan. Jalan satu-satunya adalah berjalan kaki.

BACA JUGA :  Orasi Ilmiah Delis J. Hehi di Unkrit Tentena Angkat Masalah Marketing Mix

Kacabjari Kolonodale Andreas Atmaji termasuk salah seorang pejabat yang merasakan jalan kaki menuju pedalaman suku Wana tersebut.

“Setau saya pak Andreas merupakan jaksa pertama yang menginjakkan kaki di Menyoe,” kata Kepala Desa Menyoe Sinton Pasimbo.

Andreas hadir untuk mengikuti rombongan Bupati Morut Delis Julkarson Hehi dan Wabup H. Djira K yang memiliki sejumlah agenda di Desa Menyoe.

Awalnya, jaksa berkacamata itu naik mobil yang dikemudikan sendiri Bupati Delis. Belum sampai separuh perjalanan, mobil dinas tersebut mengalami masalah. Tali panbelnya terputus. Bersamaan dengan itu beberapa mobil rombongan lainnya tertanam dalam lumpur dan tidak bisa bergerak lagi.

Dalam perjalanan pulang dari Menyoe hari Selasa (9/11/2021), semua rombongan termasuk Andreas melengkapi diri dengan tongkat untuk menjaga keseimbangan badan jika terpeleset di jalan yang licin.

BACA JUGA :  Wabup Morut Ingatkan Pentingnya Validitas Data Setiap Instansi Agar Tidak Menimbulkan Masalah

Semuanya berjalan kaki melalui semak belukar, dan melewati 12 sungai yang sedang meluap. Ada satu sungai ketinggiannya setinggi leher orang dewasa.

Andreas tidak menyerah. Meski berjalan terseok-seok dan sesekali berhenti untuk sekadar menarik napas panjang, ia terus berjalan melalui jalan setapak yang penuh duri dan bebatuan yang tajam.

“Ini pengalaman pertama dan terberat. Selama ini belum pernah saya berjalan kaki melewati gunung dan separah ini,” ujar jaksa asal Jawa Barat ini.

Walaupun melalui perjuangan berat untuk mencapai desa terpencil itu, ia merasa bersyukur bisa bertatap muka dan berbagi pengetahuan dengan masyarakat Desa Menyoe.

Dalam pertemuan yang dihadiri Bupati dan Wakil Bupati, Andreas diberi kesempatan untuk berbicara mengenai hukum dan hak-hak masyarakat.

BACA JUGA :  Siap Meraih Prestasi Terbaik, Bupati Delis Lepas Kafilah MTQ Morut ke Tingkat Provinsi

“Saya berterima kasih bisa tiba di sini. Daerah ini sangat kaya dan menjanjikan masa depan. Oleh karena, segera amankan hak-hak atas tanah. Jangan terlambat,” katanya memulai sosialisasi.

Ia menjelaskan, sesuai penjelasan bupati mulai tahun 2022 mendatang akses jalan ke Desa Menyoe sudah akan dikerjakan. Dan jika jalan ini sudah bagus, bisa dipastikan harga tanah akan melonjak.

Menurutnya, sebelum orang-orang datang mengkapling lahan di Menyoe Sebaiknya segera proses pengurusan sertifikat.

“Proses sertifikat secara berjenjang mulai dari desa, kecamatan, dan ke BPN. Pendaftaran secara berjenjang ini untuk menghindari tumpang tindih lahan,” jelas mantan Kasi Pidsus Kejari Bitung, Sulawesi Utara, itu. (Ale/Ryo/Apl)

Silakan komentar Anda Disini....