Masyarakat Adat Danau Poso Minta Direktur Poso Energi Bertanggung Jawab atas Kerugian Warga

Masyarakat Adat Danau Poso melakukan ritual adat.(Foto: Istimewa)

Selain menaikkan permukaan Danau Poso, di sungai Poso, dari outlet hingga ke desa Saojo sepanjang 12 kilometer dilakukan pengerukan. Hal ini menyebabkan Waya Masapi, alat penangkap sidat tradisional warga serta karamba harus dibongkar. Ini menyebabkan tradisi budaya masyarakat Danau Poso akan hilang. Sedangkan Penambang pasir tradisional kehilangan sumber pencaharian karena penambahan kedalaman sungai menyebabkan penambang sulit untuk mengambil pasir.

Semua limbah pengerukan itu dibuang ke Kompodongi. Kompodongi adalah wilayah ulayat yang menjadi simbol kebersamaan masyarakat dalam bentuk Mosango. Mosango adalah tradisi menangkap ikan bersama-sama  menggunakan alat yang terbuat dari rotan yang disebut Sango. Dalam tradisi Mosango ini ada kearifan masyarakat yang disebut Motila ri Ue yang artinya saling berbagi di air. Yang mendapatkan ikan akan memberikan juga hasilnya kepada yang lain yang belum mendapatkan ikan saat itu.

Kini Kompodongi terancam hilang karena area seluas kurang lebih 34 hektar itu direklamasi. Menjadi tempat pembuangan pasir hasil kerukan dasar sungai Poso. Perusahaan milik keluarga Jusuf Kalla ini berencana mengubah kawasan ini dengan membangun taman yang disebut Taman Konservasi. Padahal selain nilai sejarah dan budayanya yang tinggi, menurut para peneliti, kompodongi adalah wilayah pemijahan alami ikan-ikan yang nantinya menyebar di sungai dan Danau Poso.

Silakan komentar Anda Disini….