Masyarakat Adat Danau Poso Minta Direktur Poso Energi Bertanggung Jawab atas Kerugian Warga

Masyarakat Adat Danau Poso melakukan ritual adat.(Foto: Istimewa)

Perjalanan Megilu kedua dilakukan dari dengan berjalan kaki dari Lapangan Pamona Puselemba menuju Kompodongi. Setiba di Kompodongi, para tetua adat menyampaikan kayori sebuah syair dalam bahasa Pamona untuk mengatakan akan masuk melakukan ritual adat. Masyarakat Adat Danau Poso menghadapi jejeran kepolisan Poso. Setelah negosiasi yang alot, masyarakat adat Danau Poso memasuki wilayah Kompodongi.

Di Kompodongi, Masyarakat Adat Danau Poso, menyampaikan tuntutan agar Direktur Utama Poso Energi langsung menemui Masyarakat Adat Danau Poso untuk mengurus sebuah persoalan yang ada.

MADP menuntut PT Poso Energi harus mengganti untung semua kerugian masyarakat (sawah dan kebun yang terendam, karamba dan wayamasapi yang belum diganti untung) akibat dinaikkannya permukaan air Danau Poso

“ Menghentikan reklamasi Kompodongi, mengembalikan siklus alami Danau Poso yang terganggu akibat bendungan PLTA Poso I dan Pemerintah Daerah diminta tidak mengeluarkan kebijakan yang justru merugikan Masyarakat Adat Danau Poso,” tegas Berlin Modjanggo, tetua Adat Masyarakat Adat Danau Poso.

Setelah menyampaikan tuntutan, Masyarakat Adat Danau Poso melakukan ritual adat. Ritual adat yang dilakukan adalah memanggil leluhur untuk menegur perusahaan yang telah melakukan perusakan lingkungan dan menghilangkan kebudayaan danau Poso.(*/bay/abd)

Laporan : Abdee Mari

Silakan komentar Anda Disini….