Dilapor ke Polisi, Prof Basir Cyio : Pak Nur Tak Pernah Salah

Wakil Sekretaris Kelompok Peduli Kampus (KPK) Untad Muhammad Nur Sangadji saat dugaan serangan fisik terjadi oleh Ketua Senat Universitas Tadulako (Untad) Palu Muhammad Basir Cyio  akhirnya buka suara.(Foto: Medsos)

PALU, Kabar Selebes – Setelah dilaporkan ke polisi akibat dugaan penyerangan secara fisik dan verbal terhadap Wakil Sekretaris Kelompok Peduli Kampus (KPK) Untad Muhammad Nur Sangadji, Ketua Senat Universitas Tadulako (Untad) Palu Muhammad Basir Cyio  akhirnya buka suara.

Dalam konfirmasinya yang dikirim via pesan singkat, mantan rektor Untad itu menyebut Nur Sangadji sudah berapa kali menuduhnya sejak 30 tahun berada di fakultas Pertanian Untad Palu.

“Apa yang Pak Nur sampaikan sudah itu yang benar. Kalau beliau bilang ada kekerasan fisik, sudah itu yang benar. Kalau beliau  sampaikan ada intimidasi, sudah itu yang benar, tidak perlu tanya kepada orang-orang yang ada di sekitar rektorat. Pokoknya pernyataan Pak Nur itu setara dengan “titah seorang raja”, sudah itu yang benar. Jadi terserah dia. Lapor Polisi, atau beliau mau ketemu empat mata berdiskusi, saya tunggu. Soalnya saya orang yang tidak memiliki kemampuan berdebat seperti Pak Nur Sangaji. Angkat tangan saya ranga (kasian),” kata Basir Cyio dalam keterangan persnya Senin (20/12/2021).

Berikut secara lengkap keterangan pers yang dilayangkan Prof Basir Cyio kepada KabarSelebes.id :

“Kalau jumpa pers Pak Nur Sangadji dkk itu, saya kira itu program kerja beliau. Bagi saya, waktu itu sangat berharga sehingga memikirkan apa yang orang buat sepertinya tidak memberi manfaat. Jadi bagi saya, kita doakan saja semoga jumpa persnya beliau-beliau sukses.

Terkait tuduhannya, kan bukan kali ini beliau menuduh, sejak beliau membuat episode ke episode ke sekian, isinya menuduh. Jadi, kalau sudah Pak Nur Sangadji yang bilang, sudah itu yang benar. Soalnya, selama kurang lebih 30 tahun mengabdi di Faperta, beliau itu adalah pribadi yang tidak pernah salah dalam membawa kediriannya di tengah warga, baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Jadi percaya saja apa yang beliau bilang sebagai orang yang tidak pernah salah, maka penjelasan dari saya tidak terlalu penting. Apa yang Pak Nur sampaikan sudah itu yang benar. Kalau beliau bilang ada kekerasan fisik, sudah itu yang benar. Kalau beliau  sampaikan ada intimidasi, sudah itu yang benar, tidak perlu tanya kepada orang-orang yang ada di sekitar rektorat. Pokoknya pernyataan Pak Nur itu setara dengan “titah seorang raja”, sudah itu yang benar. Jadi terserah dia. Lapor Polisi, atau beliau mau ketemu empat mata berdiskusi, saya tunggu. Soalnya saya orang yang tidak memiliki kemampuan berdebat seperti Pak Nur Sangaji. Angkat tangan saya ranga.

Saya serahkan saja sama dinda, tetapi sekali lagi saya sampaikan bahwa Pak Nur itu tidak pernah ada salah. Anda sebut satu kata, beliau sudah sepuluh, dan jika kita meluruskan yang sepuluh, maka akan keluar bantahannya 150. Kira-kira begitulah Pak Nur di mata saya, sehingga menjawab pertanyaan dinda, terpikir tidak memberi manfaat sosial dan manfaat dari sisi informasi. Nanti kalau saya jawab, apanya memang yang sakit Pak Nur jika beliau terkena kekerasan fisik? Bisa-bisa jumpa pers lagi. Jadi mending saya kembalikan kepada beliau dan masyarakat, apa yang Pak Nur Sangadji bilang sudah itu yang benar karena beliau orang yang tidak pernah salah.

Kalau Pak Nur merasa tersentuh fisiknya, itu benar, saya pegang pundaknya sebagaimana foto-foto yang beredar di medsos.  Saya sendiri tidak tahu siapa yang ambil gambar itu karena orang yang ada di Lorong depan ruang Pak Rektor sangat banyak menjelang naik bus menuju tempat wisuda. Tapi kalua saat saya pegang Pundak sambil berdialog, dan itu terasa sakit, dan dianggap sebagai tindakan kekerasa fisik, berarti otot beliau masih sangat sensitif. Ibarat bayi, otot-otonya masih muda sakali. Kalau itu dimasukkan sebagai kekerasan fisik, sudah itu yang benar. Jangan saya bantah, nanti konferensi pers lagi.

Di Lorong itu banyak orang, dan tidak satupun beranjak mendekat, apalagi melerai. Trus kenapa yah, Pak Nur Sangadji  tidak berteriak minta tolong kalau merasa disakiti melalui kekerasan fisik? Kenapa nanti saat konferensi pers baru memperlihatkan “drama kolosal”? Tapi sudahlah, itulah yang saya tahu tentang beliau. Tidak pernah salah.

Saya juga tidak tahu mau sebut kronologi karena semua berlangsung spontan pas saya jumpa saat beliau berdiskusi dengan Prof Syukur Umar, dosen Fakultas Kehutanan. Mumpung ketemu setelah banyak episode drama kolosal yang beliau sampaikan ke media, maka saya mendekati sembari pegang Pundak. Pertanyaan saya sederhana, siapa yang menulis di media yang terlihat tidak paham antara Jurnal Predatory dan Tulisan yang Plagiat? Sebab Jurnal itu milik orang lain, dan tidak ada kaitan antara jurnal dengan kualitas tulisan. Dimanapun terbit, sepanjang tulisannya bagus, ya tetap bagus. Bahwa karena terbit di Jurnal yang manajemennya Predatory dan nilai KUM-nya turun, itu urusan tim penilai. Tetapi tidak ada kaitannya dengan Plagiat, karena itu sangat berbeda antara bumi dan langit.

Saya ingin tanya agar bisa memberi penjelasan, karena saya yakin yang menulis itu pasti bukan penulis artikel dan 100 persen tidak bisa membedakan. Tetapi karena Pak Nur sudah menyangkal dan dengan tegas mengatakan bahwa  tulisan KPK yang dimuat di media itu, sama sekali beliau tidak tahu. Dan Itu keliru, kata beliau, maka saya tidak lanjutkan memberi pencerahan.

Cuma dalam hati saya, untung beliau tidak pernah dapat amanah jadi pemimpin di kampus. Tipe begini ini sangat berbahaya sebab Ketika ada masalah, yang salah pasti anak buahnya. Kalau beliau sosok gentlemen, mestinya berkata jujur bahwa itu kami yang tulis. Tapi yang beliau tunjuk adalah koleganya bernama Drs Nasrum, katanya dari FISIP, dan beliau mengatakan jika tulisan itu sama sekali beliau tidak tahu. Kenapa yah di saat ketemu langsung kerjanya hanya menyangkal. Tetapi kalau jumpa pers, Pak Nur ini seolah kesucian dan kemuliaan itu hanya ada pada empat tempat bersemayam. Yang pertama dada Allah Subhanawataalah, Kedua Nabi, Ketiga Malikat, dan keempat ada dalam dirinya. Di luar dari itu, terutama orang yang dibenci, semua dianggap noda.

Tapi sudahlah, beliau memang tidak pernah salah. Yang salah adalah orang lain. Jadi kesimpulan saya, apa yang Pak Nur sampaikan selama menggelar jumpa pers, mulai dari episode satu sampai episode-episode mendatang, tidak perlu wartawan konfirmasi kepada orang yang beliau jelek-jelekkan. Sebab, Kebenaran hanya ada pada Pak Nur Sangaji. Titik.

(abd)

Laporan : Abdee Mari

Silakan komentar Anda Disini....