Munas KAHMI dan Perbaikan Ekonomi Ummat Berbasis Masjid

Iqbal Setyarso

SEMANGAT perbaikan ekonomi umat sudah menjadi concern sejumlah pihak. Bahkan intervensi itu pernah diikhtiarkan Bank Muamalat, melalui sejumlah programnya. Dengan judul pemberdayaan ekonomi berbasis masjid untuk masyarakat sekitar masjid. Misalnya, hal itu dilakukan melalui organisasi kemasjidan, salah satunya Remaja Islam Masjid (Risma). Bentuk bantuannya, diwujudkan bantuan kucuran modal usaha tanpa bunga untuk komoditi lokal– untuk kasus Palu, Sulawesi Tengah, salah satunya budidaya bawang merah. Ada fakta, pengurus masjid biasanya tidak mau diintervensi. Narasi “intervensi” kita singkirkan sejenak. Proses sosialisasi menjadi hal yang penting sebelum tahapan pendekatan lainnya dilakukan. Pemberdayaan (masjid) bukan hal yang mudah, meskipun juga bukan hal yang kelewat sulit diikhtiarkan.

Menakar Potensi

Masjid, merupakan kerja lintas entitas: pengurus masjid, jama’ah, dan stakeholders. Menguasai ketrampilan teknis setara dengan penguasaan “ketrampilan sosial” pengurus masjid.
Masjid yang baik, ditunjukkan penguasaan yang baik pengurusnya dalam aspek teknis – terkait ma’isah (pencaharian bagi kehidupan jama’ah); sedangkan “ketrampilan sosial” berkaitan dengan kemampuan mengelola jama’ah dan memahami kebutuhan jama’ah. Jama’ah masjid dengan pendekatan yang “sadar kebutuhannya” dengan empati pengurus, bisa “mengeluarkan” uneg-unegnya. Stakeholders ini dimaksudnya sebagai pihak yang potensial me leverage ekonomi jama’ah (secara financial, akses, pasar [terkait produk]). Terkait unsur dalam domain kemasjidan, tidak kalah penting aspek regulasi yang menentukan bisa atau tidak/boleh atau tidak sebuah kebijakan atau intervensi berlangsung atas masjid. Proses menakar potensipun dimulai.

Di sini, dimulailah tahapan mengeksekusi sejumlah treatment pemberdayaan, sebagaimana umumnya proses/pendekatan perubahan sosial. Berkaitan MUNAS KAHMI, sejumlah entitas terkait masjid perlu dilibatkan, antara lain kementerian koperasi dan kementerian perdagangan, juga kementerian Kemendesa (Kementerian Desa, Pembangunan Daerah, dan Transmigrasi). Ini tantangan untuk meluaskan inisiasi KAHMI – salah satunya yang baru diluncurkan KAHMI Payment – yang mengayomi sejumlah perusahaan.

Call for investment di MUNAS KAHMI juga bisa diinisiasi, komitmen keummatan kader hijau hitam salah satunya, diuji dengan ajakan berinvestasi. Dan kader-kader yang memiliki akses ke sejumlah kementrian terkait, didorong pada tekad mengokohkan ikhtiar perbaikan ekonomi rakyat dan ummat.

Saya setuju mengusung tiga topik besar (1) menghalau stigmatisasi Poso sebagai daerah konflik dan sarang teroris; (2) Kahmi Peduli Kemanusiaan; dan (3) Pengembangan UMKM danpengelolaan SDA yang berkelanjutan.

Kebangkitan Ekonomi Umat dari Masjid

Menghela kebangkitan ekonomi umat dari masjid, bisa “dititipkan” dalam MUNAS KAHMI. Misalnya, ajakan berinvestasi para peserta MUNAS demi kebangkitan ekonomi umat. Melalui rintisan masjid melalui stimulant modal usaha berbasis masjid, misalnya masjid nelayan (komunitas bahari), masjid pertanian, bisa menjadikannya sentara usaha masjid sebagai destinasi wisata pemberdayaan (empowerment tourism). Para peserta MUNAS bisa diperjalankan ke titik-titik destinasi wisata pemberdayaan. Benar, bahwa butuh energi besar sekali untuk bisa membangun sinergi. Perlu kerja keras dan ikhtiar kuat membangun peradaban baru melalui masjid. Sulit melakukan itu, meski bukan hal tidak mungkin. Di tengah kian inferiornya umat ini untuk mendekat ke masjid di satu sisi; pada sisi lainnya hegemoni masjid dikondisikan menjadi “wilayah kekuasaan” organisasi massa tertentu. Semua itu mungkin dengan dua hal: memakmurkan masjid dan mengembalikan peradaban terbaik. Inilah kerja-kerja yang bisa diawali dengan mengembalikan kebangggaan umat kepada masjid. Selain bahwa banyak takmir masjid yang juga semakin tidak pede dengan amanah besarnya ini. Perlu effort besar mewujudkan visi besar itu. Kerja kita ini bukan kerja manusia orang per orang, tetapi kerja-kerja peradaban yang perlu disadari hal itu akan melelewati banyak generasi. Bagaimana kita akan membangun “peradaban” lewat masjid, sementara banyak adik-adik kita di komisariat HMI yang bangun subuhnya saja kesiangan.

Jangankan ke masjid, untuk shalat berjamaah tepat waktu dan menjaga keutamaan-keutamaan shalat saja masih seringkali lupa. Ha-hal seperti inilah yang Sultan Mohammad Fatih sering ungkapkan, Jangan sampai satu kemaksiatan membuat tujuan besar kita meraih kemenangan tidak bisa tercapai. Padahal saat itu hanya ada satu saja anggota pasukan diantara ratusan ribu yang lupa. Lupa untuk bersiwak/sikat gigi sebelum shalat malam/tahajud yang menjadi ibadah sunnah (yang dilazimkan oleh pasukannya).

Kalau sesuatu sunnah saja sampai dipandang menjadikan suatu kemaksiatan bila tidak melakukannya kita bisa lihat kualitas seperti apa generasi pembentuk peradaban Islam menjadi cemerlang itu. Generasi yang disampaikan Rasulullah lebih baik dari generasi manapun. Bukan soal tidak mungkin, sangat mungkin, bila kita melakukannya bersama-sama dengan menghilangkan sekat antar kelompok, lembaga dan memikirkan langkah mana yang paling baik. Wallahu a’lam bish-shawwab.

Penulis : Iqbal Setyarso
Alumni HMI Cabang Palu dan Alumni FISIP Univ. Tadulako Palu 1992

Silakan komentar Anda Disini....