Pemuda Alkhairaat Menuju Haul Guri Tua: Ketika Anak Tangga Terasa Seperti Springbed (3)

Apapun alasnya tetap tertidur nyenyak dan pulas (foto:istimewa)

SINIU, Kabar Selebes – Begitu tiba di kediaman ustadz Syamsul Muarif di Desa Siniu Kec. Siniu Kab. Parigi Moutong, Senin 08 Mei 2022 oukul 10:07 Wita, rata-rata mengaku lapar. Hanya saja, sang tuan rumah yang merupakan sahabat salah seorang anggota tim, tak berada di tempat.

Walhasil, sang ketua pasukan mujahid muda Alkhairaat Kasimbar Arfandi S.Lamaki,S.Pd.I, memberi komando menuju sebuah warung yang memang tak jauh dari rumahnya ustadz Syamsul.

“Ayo semua, begerak ke warung nasi kuning itu,” komandonya. Tak menunggu lama, mereka pun mengatur tsmpat duduk, lalu menyantap menu pagi tersebut.

Tak butuh lama, 20 menit setelahnya, alumni Resimen Mahasiswa (Menwa) IAIN Datokaroma Palu tahun 2014 memerintahkan melanjutkan perjalanan. Dirinya pun mengkonfirmasi kepada KabarSelebes.id untuk melakukan siaran langsung.

“Ini khusus kepada Kabar Selebes agar beritanya terupdate terus kepada warga abnaul khairaat dimanapun berada,” ucap Fandi ( panggilan akfabnya) kepada media ini dari ujung video, Senin (09/05/2022) pukul 10:31 Wita.

Setelah menempuh perjalanan sejauh 7,2 kilometer  dengan durasi waktu 1 jam 26 menit, mereka tiba di Desa Uevolo. Di desa yang masih masuk dalam pemerintahan Kecamatan Siniu itu, di cegat oleh warga yang mengaku abnaul khairaat, untuk makan.

Mendapat hidangan gratis, tak mampu di tolak. “Alhamdulillah semua sepakat singgah makan, sambil kami menunggu Gafur dan Muhid,”, terang guru MTs Alkhairaat Donggulu itu.

BACA JUGA :  Walikota Palu menyebut SIS Aljufri sebagai Pencerah Warga Sulawesi Tengah
Usai mandi dan mencuci, ramai-ramai makan siang (foto:istimewa)

Sembari istirahat, kedua kawan yang tertinggal tadinya, pun tiba dan ikut nimbrung menikmati hidangan bermenu ikan goreng pedas. “Selesai makan, kami berikan waktu untuk Gafur minum obat sambil istirahat,” tutur Fandi.

Merasa letih berkurang, mereka pun sepakat jalan. Kali komposisi lengkap, 16 orang. Tujuan berikutnya kata Agung sang pembawa bendera merah putih adalah Desa Marantale sejauh 1kilometer. “Karena Cuma dekat, torang jalannya santai. Apalagi perut so full. Kalo jalannya ba gas, tako ada yang muntah, kan rugi, mubazir,” ucap Agung setengah berceramah.

Rupanya setiba di Desa Marantale,  seorang warga yang namanya enggan di publikasikan telah menyiapkan menu makan siang sederhana, dadar telur dan ikan goreng. “Silakan nak, ala kadarnya,” kata Agung meniru ajakan sang ibu mempersilakan makan.

Meski perut mash terasa kenyang. Toh, mereka tetap melahap dengan nikmat.  “Abis makan, ada yang mandi dan bacuci. Kan kami agak lama istirahatnya, sekitar empat jam lebih. Lumayan bisa memulihkan badan sambil tidur siang,” syukur Gafur gembira.

Barulah tepat pukul dua siang, tim long march yang juga sebagai anggota majeIs zikir Ittihadul Ummat Kasimbar itu, memulai jalan menuju Desa Toboli Kec. Parigi Utara sejauh 11kilometer.

Syukur di siang hari itu, sinar matahari tak panas amat. Sehingga banyak lakon yang di pertontonkan para anak muda Alkhairaat ini. Salah satunya, menari Jepang yang di iringi musik gambus yang berbunyi dafi salon bluetooth yang sengaja mereka bawa serta.

BACA JUGA :  Habib Saggaf Aljufri : Kepala Daerah yang tidak Bantu Alkhairaat, Hati-hati Anda akan Dituntut oleh Allah

“Alhamdulillah warga dan orang-orang naik motor bahkan oto banyak yang berhemti menonton torang ba jepeng,” tutur Sya’ban sang penari.

Malahan ucap pemuda yang di panggil Aco Kribo itu, ulah baiknya berbuah manis. Spontan, seorang warga menghadiahkan satu kantong plastik buah rambutan,” Lumayan buat makan di jalan,” senang Aco singkat.

Lelaki berdarah Bugis itu pula mengemukakan, tak sedikit juga yang bersedekah uang. “Alhamdulillah tiap kami jalan termasuk sekarang ini, ada yang memberi uang walau tak seberapa” pujinya.

Sesaat sebelum memasuki desa yang terkenal dengan kuliner Lalampa Tobolinya itu, disambut oleh petinggi Himpunan Pemuda Alkhairaat (HPA) Kab. Parigi Moutong. Bahkan, Muhammad Kasim Ketua HPA Parimo menawarkan mobilnya untuk menaruh tas dan barang bawaan.

“Hanya separuh saja yang taruh di mobil. Saya dan beberapa teman lainnya, tetap menanggul,” kata Fandi. Sambil di kawal mobil HPA, mereka pelan-pelN menuju Toboli.

Pukul 16:58 Wita,  ke enam belas pemuda yang tetap bertekad jalan kaki meski banyak tawaran tumpangam itu, tiba di Toboli.  Mereka pun di sambut oleh Habib Abdullah Alhasni, pimpinan majelis zikir Toboli. “Ahlan wa sahlan sang pejuang Alkhairaat. Syukran karena antum semua mau menapak tilas dakwah Guru Tua,”, ucapnya habib Abdullah dalam sambutannya.

BACA JUGA :  Pemuda Alkhairaat Jalan Kaki ke Haul Guru Tua: Banyak Diberi Bekal Sepanjang Jalan (1)

Pelukan hangat dan cium tangan dari para pemuda pun tergambar silih berganti. Tanpa di perintah, beberapa warga menyuguhkan minuman dingin dan lalampa. “Selesai shalat magrib baru habib ajak kami makan malam,”, lapor Fandi pada media ini.

Usai makan malam, habib Abdullah mengantar tim jalan kaki ini menuju masjid Sentra Pembakaran Bahan bakar Umum (SPBU) Pertamina Toboli. Hujan gerimis yang membasahi desa lintu gerbang menuju Palu itu, fak menyurutkan semangst mereka.

Mereka pun istirahat dengan tidur pulas. Menurut rencana, subuh ini Selasa 10 Mei 2022 pukul 03:00 dini hari, akan melanjutkan perjalanan menyisir jalur yang terkenal dengan sebutan “kebun kopi” tersebut.

Sebelum tidur,  Arfandi dan Agung musyawarah. Mereka menargetkan peristirahatan total berikutnya di Desa Karumba, Desa Nupa Bomba, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala.

“Tapi kalo tak mampu, karena ini jalurnya berat dan mendaki, kami memilih Puncak Kebun Kopi untuk tempat istirahat. Apalagi kalo hujan deras seperti saat ini, kami istirahat total, kalo gerimis, kami tetap lanjut,” terang Fandi menutup sambungan telepon. Bersambung… (hcb)

Laporan : Hasan Cl. Bunyu

Silakan komentar Anda Disini….