Abnaulkhairaat Kecamatan Moutong Gelar Haul Guru Tua

Pelaksanaan Haul Guru Tua di Desa Moutong Timur berlangsung khidmat (foto : Hasan Bunyu)

MOUTONG, Kabar Selebes – Warga  serta simpatisan Alkhairaat menggelar acara Haul Sayyid Idrus bin Salim Aljufri atau dikenal dengan sebutan Guru Tua di masjid Arrahman Dusun IV Desa Moutong Timur Kecamatan Moutong Kabupaten Parigi Moutong, Sabtu 28 Mei 2022 pukul 20:15 Wita.

Sardin, S.Pd selaku Ketua Pengurus Cabang Alkhairaat Kecamatan Moutong dalam sambutannya menyatakan bila umat Islam ingin selamat dan bahagia di dunia akhirat, hendaknya memiliki ilmu, terutama ilmu agama.

Guru Tua merupakan tokoh pejuang di Sulawesi Tengah dalam bidang pendidikan agama Islam dan sepanjang hidupnya beliau dikenal sebagai sosok yang mencintai dan dicintai ilmu” ucap Sardin di hadapan tiga ratusan abnaulkhairaat yang memadati masjid berwarna hijau daun itu.

Selain itu lanjutnya, zaman telah berubah berganti menjadi zaman digital yang berakibat pada definisi dua arah, yakni arah positif dan negatif. Segi positif adalah mereka yang memiliki ilmu agama sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan dunia.

“Sedangkan sisi negatifnya adalah mereka yang menjadi korban karena kesalahan dan tak mampu menelaah ilmu. Seperti mereka punya ilmu tapi yang di pelajari ilmu yang tidak berguna, belajar ilmu hitam dan lain-lain sehingga dirinya tersesat,” papar Pengawas Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) Kecamatan Moutong tersebut.

BACA JUGA :  DMI Sulteng Siapkan Posko Layanan Kesehatan dan Logistik di Haul Guru Tua

Moh Afdar S. Lihimi yang diberi tugas membacakan sejarah Guru Tua mengisajkan bila ulama Sulawesi Tengah itu lahir di Tarim Hadramaut negara Yaman Selatan pada tanggal 15 Maret 1892 dan wafat di Palu ibukota Provinsi Sulawesi Tengah tanggal 22 Desember 1969 dalam usia 77 tahun.

Menurutnya, silsilah sayid Idrus Bin Salim bin Alwi bin Saqqaf bin Muhammad bin Idrus bin Salim bin Husain bin Abdillah bin Syaikhan bin Alwi bin Abdullah At Tarisi bin Alwi Al Khasawah bin Abu Bakar bin Al Jufri Al Husain Al Hadhramiy yang mempunyai jalur keturunan dari Sayyidina Husain bin Fatimah As Zahrah puteri dari Rasulullah SAW.

Afdar juga megisahkan sejarah Guru Tua berdasarkan buku pelajaran sejarah Alkhairaat yang ia kutip. Kata Afdar, awal kedatangan Guru Tua di Sulawesi Tengah yaitu di Wani kota Palu dalam rangka memenuhi panggilan dari kakak beliau Sayyid Alwi bin Salim Al Jufri untuk mengajar di Wani pada tahun 1929 M.

“Kehadiran Guru Tua di Wani merupakan wujud dari keinginan masyarakat setempat yang ingin mengenal Islam lebih baik dan mereka membangun tempat untuk proses belajar mengajar,” terangnya.

BACA JUGA :  Pemuda Alkhairaat Menuju Haul Guri Tua: Demam Tetap Jalan Meski Ketinggalan Jauh (2)

Dalam kisah penutup, alumni Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta Kabupaten Boalemo tahun 2019 itu Guru Tua wafat memang tidak meninggalkan karangan kitab. “Namun karya besarnya yaitu Alkhairaat dan murid-murid beliau telah memberikan pengajaran serta pencerahan agama kepada umatnya,” tutur pegawai penyuluh Kantor Urusan Agama Kecamatan Moutong itu.

Sementara Drs KH Fachry J Djafar,.MHI yang di daulat membawakan mutiara hikmah Alkhairaat menyampaikan Guru Tua merupakan tokoh pejuang di Sulawesi Tengah dalam bidang pendidikan agama Islam dan sepanjang hidupnya beliau dikenal sebagai sosok yang mencintai dan dicintai ilmu.

“Semangat juang Guru Tua ini harus kita dedikasikan dalam diri kita. Dimana ada Alkhairaat, maka umat Islam menjadi tanggung jawab tumbuhnya lembaga pendidikan Alkhairaat. Menghidupkan Alkhairaat sama kedudukannya dengan menghidupkan Islam,” ujarnya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo itu menyatakan, walaupun umat Islam yang ada di Kecamatan Moutong ini tidak pernah belajar Alkhairaat tetapi ikut membantu membangun dan menghidupkan Alkhairaat dimana saja berada, itu sama dengan bagian dari abnaulkhairaat.

“Walaupun kita hadir pada malam ini tidak ada yang pernah menjadi murid langsung Guru Tua, tetapi tidak melunturkan kecintaan kita pada Guru Tua,” katanya mantap.

BACA JUGA :  Disparekraf Sulteng Gagas Pembangunan Museum Guru Tua Sebagai Obyek Wisata Religi

Mantan Kepala MTs dan MA Alkhairaat Pulau Bunyu Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara era tahun 1990-an itu mengemukaka, jika misi utama sosok ulama yang sedang di usulkan jadi pahlawan nasional itu adalah misi dakwah bidang pendidikan.

“Guru Tua wafat memang tidak meninggalkan karangan kitab, namun karya besarnya yaitu Alkhairaat dan murid-murid beliau telah memberikan pengajaran serta pencerahan agama kepada umatnya. Sehingga sampai saat ini sudah terdapat lebih dari 1.000 cabang Alkhairaat berdiri terutama di berbagai belahan timur Indonesia,” ujar ulama kharismatik Kabupaten Pohuwato itu.

Ketua Takmir masjid Arrahman Tasrif, MPd mengatakan, bila pelaksanaan haul Guru Tua ini merupakan penyelenggaraan kedua kalinya yang warga Alkhairaat Moutong Timur laksanakan. Kali pertama dilaksanakan pada pada tahun 2020 di tempat yang sama.

“Ini sebagai bentuk mengobati rasa cinta masyarakat terhadap Guri Tua yang mana mereka tidak sempat datang ke Palu mengikuti Haul Guru Tua secara langsung,” ucapnya kepada KabarSelebes.id usai pelaksanaan haul. (hcb)

Laporan : Hasan Cl. Bunyu

Silakan komentar Anda Disini….