Maraknya Wisuda TK Bertoga, Nurlina : Itu Pelecehan dan Mencederai Makna Pakaian Toga

Pakaian Toga di acara wisuda TK di Kecamatan Moutong (foto:istimewa)

PARIGI, Kabar Selebes – Ramainya acara wisuda Taman Kanak-kanak (TK) memakai pakaian toga lengkap dengan simbolnya, mendapat reaksi keras dari Dinas Pendidikan.

Kepala Bidang Pendidikan Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Paud dan Dikmas) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong Nurlina, angkat suara soal acara wisuda ala perguruan tinggi tersebut.

Kepada KabarSelebes.id yang menghubunginya via aplikasi WhatsApp, Senin 20 Juni 2022 pukul 20:00, Nurlina menegaskan bahwa pemakaian baju hitam bertoga, hanya bisa dilakukan oleh mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.

“Toga sendiri merupakan simbol bahwa mahasiswa telah lulus dan selesai melakukan pembelajaran di kelas dan siap untuk terjun ke masyarakat. Para mahasiswa memakai tali toga menandakan mereka selama menjadi mahasiswa selalu menggunakan otak kirinya untuk belajar,” jelas Nurlina mengutip sumber di mediapakuan.pikiran-rakyat.com.

Alumni Magister Universitas Tadulako tersebut memaparkan, otak kiri berhubungan dengan pemikiran analitis, hafalan, logika dan lain sebagainya. “Dengan di pindahkan tali toga sebelah kanan oleh rektor, maka para mahasiswa ini diharapkan mampu menggunakan otak kanannya saat terjun di masyarakat. Kalo simbol ini juga mengikat pada anak TK, kan belum mampu beranalisis dan mengemukakan pendapat di masyarakat,” urainya.

Nurlina secara tegas telah menyampaikan kepada seluruh satuan pendidikan (satdik, red) di kabupaten paling utara Sulawesi Tengah ini, sejak tahun 2015, surat edaran Direktorat Pendidikan Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat bernomor 2519/C.C2.1/DU/2015 yang ditandatangani oleh Harris Iskandar,  telah disosialisasikan.

“Dan sejak tahun 2017 dikampanyekan agar penamatan diganti dengan pentas  akhir tahun yang merupakan ajang untuk mempublikasikan capaian belajar anak Paud dan terjalin komunikasi yang baik  antara satdik dengan orang tua peserta didik,” jelas perempuan yang mulai mengomandoi bidang Paud dan Dikmas Disdikbud Kabupaten Parigi Moutong, 01 Januari 2017 itu.

Ketika media ini menanyakan soal masih maraknya lembaga Paud danTK yang “membandel” mewisuda anak didiknya dengan pakaian Toga, Nurlina menyayangkan satdik yang masih memaksakan “tradisi” yang tak tercantum di Dirjen Paud dan Dikmas tersebut. Terutama jika membaca di poin ke sembilan.

“Yang paling saya sayangkan, kadang ada Paud dan TK yang membebani orang tua murid. Bagaimana dengan para orang tua yang pendapatannya hanya pas-pas. Kalau hanya anaknya saja yang tidak memakai toga, bagaimana psikologis anaknya saat melihat teman-temannya, pasti kecil hati. Kan kasian, padhal itu tidak diatir dalam Dirjen Paud dan Dikmas,” katanya menyayangkan.

Nurlina pun mengaku bahwa saat ini belum ada penetapan sanksi terhadap paud dan TK yang selalu mengadakan kelulusan dengan memakai toga. “Tetapi apa yang mereka (satdik Paud dan TK, red) lakukan saat ini akan mencederai pemaknaan toga yg berarti melakukan pembelajaran yang tidak  bermakna pada jenjang pendidikan dini, sekaligus memperlihatkan kerendahan kapasitas sebagai penyelenggara pendidikan. (hcb)

Laporan : Hasan Cl. Bunyu

Silakan komentar Anda Disini….