Bupati Morut Paparkan Progran ‘Pajeko’ pada Rakor KPN; Gubernur, Bupati, BPK dan Untad Beri Apresiasi

PALU, Kabar Selebes – Bupati Morowali Utara Delis J. Hehi diminta Gubernur Sulawesi Tengah Rusdy Mastura untuk memaparkan program Pengembangan Jenis Komoditi (Pajeko) di depan Rakor Pengembangan Kawasan Pangan Nusantara (KPN) yang berlangsung di Gedung Bappeda Sulteng di Kota Palu, Rabu (13/7/2022).

Rakor Pengembangan KPN yang dipimpin langsung Gubernur Rusdy ‘Cudy’ Mastura itu dihadiri semua bupati dan wali kota, membahas berbagai hal terkait ditetapkannya Sulteng menjadi KPN oleh Presiden, guna mendukung Ibu Kota Negara (IKN) yang baru di Pasir-Penajam-Balikpapan, Kaltim.

Gubernur menilai bahwa ‘Pajeko’ yang merupakan salah satu program unggulan Morut di bawah kepemimpinan Delis-Djira sebagai bupati dan wabub, cocok untuk diterapkan di seluruh Sulteng untuk menggenjot peningkatan produksi pertanian tanaman pangan dalam rangka KPN tersebut.

BACA JUGA :  Pimpin Upacara HUT ke-8 Morut, Gubernur Sulteng Ingatkan Masuknya Investasi Besar-besaran Harus Untungkan Daerah dan Masyarakat

Bupati Morut Delis J. Hehi menjelaskan bahwa Pajeko merupakan program akselerasi peningkatan produksi pangan yang berbasis petani dan sepenuhnya dibiayai dengan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Ada lima pihak yang terlibat dalam program ‘Pajeko’ ini yakni perbankan (Bank Sulteng dan BNI), off-taker (pengusaha), petani, petusahaan asuransi dan perintah daerah.

Dalam operasionalnya, kata Delis, off-taker membuat perjanjian (MoU) dengan petani yang akan menjadi dasar untuk mengajukan permohonan dana KUR di perbankan yang akan membiayai proses produksi.

Dalam penyaluran KUR, off-taker juga sebagai penjamin legalitas lahan sehingga para petani tetap bisa mendapatkan KUR meski lahannya tak punya sertifikat.

MoU juga terkait harga beli sehingga petani terjamin akan mendapatkan harga standar walaupun harga pasar sedang bergejolak.

BACA JUGA :  Bupati Delis Buka Lomba Paduan Suara Dharna Wanita Persatuan Morut

“Semua proses kerja sama ini dilindungi oleh asuransi, sehingga bila ada kegagalan, maka asuransi yang akan menutupi risiko-risiko yang terjadi,” kata Delis yang didampingi Ketua Bappeda Gerson Tandi, M.Eng, Kadis PUPR Destuber Mato’ori, ST.M.Si dan Kadis Pertanian Abbas Matoori.

Menurut Delis, Pajeko dicetuskan berdasarkan hasil riset yang dilakukan IPB Bogor bekerja sama dengan Pemkab Morut untuk memetakan potensi komoditas yang cocok dikembangkan di setiap wilayah.

“Sekarang Morut sudah memiliki data lengkap tentang komoditas apa yang cocok untuk dikembangkan di setiap wilayah,” ujarnya.

Untuk tahap pertama, dua komoditas unggulan yang dijangkau dalam tahap awal implentasi Pajeko yakni jagung dan nilam. Tahun 2022 ini, Pajeko menargetkan luas tanam jagung 2.000 ha, sedang nilam masih dalam tahap persiapan.

BACA JUGA :  Bupati dan Wabup Tinjau Langsung Pilkades Serentak se Kabupaten Morowali Utara

Morut memilili lahan pengembagan jagung saat ini seluas 3.800 ha sedang potensi lahan yang cocok ditanami jagung mencapai 22.500 ha. Sedangkan nilam, lahan eksisting 880 ha sedang lahan potensial 9.000 ha.

Program pajeko ini mendapat respon luas peserta Rakor. Pelaksana tugas Bupati Banggai Laut akan mereplikasi program Pajeko di daerahnya sedangkan Sekda Parigi Moutong menyarankan program Pajeko menangani peternakan sapi juga.

Sementara Kepala Perwakilan BPKP Sulteng dan pakar dari Universitas Tadulako Palu, mengapresiasi program Pajeko karena dilaksanakan berdasarkan hasil kajian akademik sehingga hasilnya akan lebih meyakinkan.(hen)

Laporan : Heandly Mangkali

Silakan komentar Anda Disini….