Indahnya Seni Kaligrafi Alqur’an MTQ XXIX Sulawesi Tengah di Luwuk 2022

Syarifah utusan Kota Palu sedang menunjukkan keahliannya di hiasan mushaf (foto:Hasan Bunyu)

LUWUK, Kabar Selebes – Ada yang menarik dari perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke – 29 tingkat Provinsi Sulawesi Tengah yang di laksanakan di Luwuk Kabupaten Banggai, adalah cabang Musabaqah Khottil Qur’an (MKQ) atau lazimnya di sebut kaligrafi.


Tengok saja, hari pertama MKQ yang menggelar golongan Naskah dan hiasan mushaf yang di adakan di gedung Graha Pemda Banggai, Ahad 24 Juli 2022 sejak pukul 08:00 hingga pukul empat sore.


Para khattath dan khattathah (sebutan peserta kaligrafi putra dan putri, red) yang berasal dari 12 kabupaten dan satu kota di Sulteng, menunjukkan keahlian mereka menggores tulisan dan serta cet sehingga membentuk karya yang spektakuler.


Ketua dewan hakim MKQ Muhammad Arif, S.PdI yang ditemui KabarSelebes.id di sela-sela perlombaan memaparkan, ada tiga bagian yang menjadi aturan pokok penulisan peraduan lomba menulis ayat suci Alqur’an ini.

BACA JUGA :  Tim Kaligrafi Kafilah Kabupaten Poso Siap Rebut Tiket Nasional


“Ketiga jenis penilaian di cabang naskah adalah bidang kaidah. Di bidang ini meliputi bentuk dan proporsi huruf, jarak spasi dan letak huruf harus selaras dan serasi, terakhir keserasian dan komposisi antar huruf,” terang Arif.


Selain itu, tambah pimpinan pesantren dan sanggar seni kaligrafi Alqur’an Alhasyimi Sulteng tersebut, ada bidang keindahan yang terdiri dari kekayaan imajinasi dan kebersihan sert kehalusan sebuah karya.


“Jadi, kalo ada karya peserta yang sedikit saja kotor. Itu sangat mempengaruhi nilai. Karena kebersihan itu nilainya lima belas. Jadi mereka tidak juara karena di pengaruhi oleh kebersihan karyanya,” tambahnya.


Hal senada pun diungkapkan Sarmadi. Dewan hakim kaligrafi yang paling tua itu menjelaskan, khusus pada bidang hiasan mushaf, penilaian juga meliputi tiga komponen, yakni bidang kaidah, bidang keindahan dan bidang keindahan hiasan.


“Sama dengan cabang naskah, gaya dan kaidah tulisan memiliki nilai paling tinggi. Yaitu nilai 40 dari jumlah nilai sempurna 100 poin. Untuk bidang keindahan dan hiasan masing-masing memiliki nilai 30,” jelas Sarmadi.

BACA JUGA :  50 Kafilah Sigi Siap Ikut MTQ Tingkat Provinsi di Banggai Kepulauan


Sesepuh kaligrafi asal Kecamatan Toili Kab. Banggai itu juga mengurai, kekayaan imajinasi dan susunan tata warna yang serasi dan segar di pandang mata juga menjadi faktor penilaian tertinggi.

“Di hiasan mushaf, meski tulisan bagus kalau hiasan dan warnanya tak menarik, dipastikan tidak bisa juara satu. Bahkan kalau yang lain banyak yang bagus. Maka tidak dapat juara meski juara harapan,” tuturnya.


Sedangkan anggota dewan pengawas bidang hafalan MTQ Sulteng H. Sofyan Arsyad, S.Pdi., M.Si saat memantau lomba MKQ menyampaikan rasa takjubnya pada peserta yang kian tahun mengalami peningkatan yang cukup signifikan.


“Kalau tahun-tahun sebelumnya, kita saja yang awam soal kaligrafi bisa menebak siapa yang juara satu. Tapi pada MKQ kali ini, jangankan juara satu. Yang masuk tiga besar saja, tidak bisa diprediksi. Karena hampir semua karya peserta hanya beda-besa tipis. Saya yakin para dewan hakim pasti kerja keras dapat menentukan siapa yang masuk final,” jelas Sofyan.

BACA JUGA :  Siap Meraih Prestasi Terbaik, Bupati Delis Lepas Kafilah MTQ Morut ke Tingkat Provinsi


Sub Koordinator Seksi Penais dan Sistem Informasi Kanwil Kementerian Agama Sulteng itu juga mengusulkan, jika karya para terbaik satu di setiap cabang kaligrafi di inventaris. “Nanti pada saat MTQ provinsi berikutnya, karya mereka di pajang di arena, supaya masyarakat bisa melihat bahwa ini karya kaligrafi MTQ sebelumnya,” usul salah seorang pengurus LPTQ Prov. Sulteng tersebut.


Terlebih lagi sambungnya, jika gedung LPTQ Sulteng selesai, karya terbaik bisa juga di pajang dikantor. ” Itu sebagai pedoman perkembangan dan bisa mengevaluasi sejauh mana kemajuan perkaligrafian tiap tahunnya,” tutupnya. (hcb)


Laporan : Hasan Cl. Bunyu

Silakan komentar Anda Disini....