Pertemuan budayawan Mori dan Wana Rekomendasikan Pelaksanaan Festival Monsaku 2023

KOLONODALE, Kabar Selebes – Tokoh budaya dan pemerhati adat Mori dan suku Wana sepakat untuk menggelar Festival Monsaku tahun 2023 mendatang.

Monsaku atau mengolah sagu dilakukan oleh orang-orang tua dulu untuk dijadikan bahan makanan berupa dui atau modui.

Usulan festival itu merupakan hasil rekomendasi Focus Group Discussion (FGD) tentang pelestarian budaya masyarakat Mori dan kearifan lokal masyarakat adat tau ta’a Wana Kabupaten Morowali Utara.

Diskusi yang laksanakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Morowali Utara, berlangsung di Hotel Bougenville Kolonodale, Rabu (9/11/2022).

Sejumlah narasumber tampil dalam FGD itu di antaranya Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulteng Dr. Rachman Ansyari, M.Pd, pegiat lingkungan dari Yayasan Merah Putih (YMP) Supardi Lasaming, S.Pd, aktivis lingkungan Jabar Lahaji.

Juga ada aktivis kebudayaan Mori Siwadarman Tamanampo, SH, Drs. Julius Pode, Ten Marunduh, Reimon Monsangi dan beberapa tokoh dari Tau Ta’a.

Sebelum tiba pada kesimpulan, sempat muncul beberapa usulan kegiatan yang intinya untuk menggelar event besar yang bertujuan untuk pelestarian budaya dan mengangkat kearifan lokal.

BACA JUGA :  Wabup Morut Harapkan Gugus Tugas Reforma Agraria Utamakan Kepentingan Masyarakat

Rachman Ansyari selaku pimpinan rapat dalam pengambilan keputusan FGD mengatakan akan segera melaporkan usulan pelaksanaan Festival Monsaku kepada Kadis Dikbud Provinsi Sulteng dan selanjutnya ke Gubernur Sulteng.

Ia menjelaskan, dalam kalender Bidang Kebudayaan memang diagendakan untuk melaksanakan festival budaya tingkat provinsi tahun 2023 dengan mengambil lokasi di Morut.

Karena itulah, FGD yang melibatkan para tokoh adat dan budayawan Mori dan suku Wana ini dimaksudkan untuk mencari masukan tentang “brand” yang cocok diangkat dalam upaya melestarikan dan mengangkat budaya lokal.

“Tahun 2022 ini baru saja kita gelar Festival Moraa (pesta panen) di Uekuli, Kabupaten Tojo Una-una. Festival tersebut dimeriahkan dengan berbagai kegiatan ikutan seperti parade budaya, pameran, seni budaya sport tourism dan lainnya. Di Morut juga nantinya dilakukan seperti itu,” jelas Rachman.

Menurutnya, di Dikbud Provinsi berharap agar di setiap kabupaten/kota ada brand yang merupakan ciri khas daerah tersebut. Misalnya, Donggala terkenal dengan kain tenun (sarung Donggala), Touna dikenal dengan kearifan Moraa (ritual panen), begitu juga daerah lainnya.

BACA JUGA :  Mati Lampu saat RDP DPRD Morut Bahas Penanganan Listrik

Setiap daerah disikahian untuk mengusulkan budaya apa yang menjadi ciri khas dan merupakan warisan turun-temurun. Yang penting tidak membuat ritual yang bertentangan dengan agama.

Dalam FGD di Hotel Bougenville, muncul usulan agar saat Festival Monsaku bisa juga dilakukan dui massal dengan menampilkan ciri khas setiap desa/kecamatan, serta pameran UMKM dari bahan makanan olahan sagu.

“Jadwal festival ini bisa disesuaikan dengan pesta kematian (mabadong) di Toraja yang disesuaikan dewan waktu kunjungan turis mancanegara,” harap Jabar Lahaji.

Dalam sambutannya saat membuka FGD tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Morut Muh Ridwan Dg Mallureng, S.Ag mengatakan menyambut baik berkumpulnya tokoh-tokoh adat dan budaya Mori dan tau ta’a Wana untuk mendiskusikan kebudayaan dan kearifan lokal daerah ini.

Ia juga berharap agar rekomendasi pertemuan ini bisa segera ditindaklanjuti dan disesuaikan dengan rencana kegiatan di bidang kebudayaan tahun 2023.

Dalam bahasa Mori dan Ta’a Wana, Monsaku berarti memproses (mengolah) pohon sagu dengan cara tradisional sampai menghasilkan sagu.

Sagu tersebut diproses lagi menjadi bahan makanan yang dikenal dengan dui. Saat ini sudah banyak yang memproses sagu dengan cara modern yakni dengan menggunakan mesin.

BACA JUGA :  Lima Fraksi DPRD Morut Setujui Rancangan Perubahan APBD Tahun 2022

Dengan festival ini akan diperkenalkan secara utuh cara mengolah sagu dengan cara tradisional sebagai kearifan lokal masyarakat suku Mori dan Ta’a Wana di Morut.

Rachman Ansyari menambahkan, rencana pelaksanaan Festival Monsaku ini akan segera dilaporkan ke Gubernur Sulteng, sedangkan di tingkat kabupaten diharapkan Kadis Dikbud dan jajarannya segera melaporkan rencana ini kepada Bupati Morut.(*/hen)

Laporan : Heandly

Silakan komentar Anda Disini….