Sulawesi Tengah

BRIDA sebut Megalitikum Sulteng dan Gunung Padang sedang dalam riset, mana yang lebih tua?

1499
×

BRIDA sebut Megalitikum Sulteng dan Gunung Padang sedang dalam riset, mana yang lebih tua?

Sebarkan artikel ini
Megalitikum Pokekea di Lembah Behoa Poso dan situs Gunung Padang Jawa Barat (Foto : Taufan Bustan/benar News dan Tripadvosor)

PALU, Sulawesi Tengah –   Munculnya situs megalitikum Gunung Padang Jawa Barat yang disebut megalitikum tertua di Indonesia selain situs megalitikum Sulawesi Tengah, mendapat tanggapan dari Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Sulawesi Tengah.

Kepala BRIDA Provinsi Sulawesi Tengah, Faridah Lamarauna, bersama dengan Koordinator Tenaga Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi Sulawesi Tengah, Haliadi Sadi, SS., M.Hum., Ph.D., menegaskan komitmen mereka untuk mengungkap lebih jauh mengenai kekayaan sejarah dan situs megalitikum yang ada di provinsi ini.

Dalam pernyataannya, Faridah Lamarauna menggarisbawahi betapa pentingnya memanfaatkan kekayaan alam dan peninggalan sejarah untuk kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan riset dan pelestarian.

“Indonesia adalah negeri yang kaya akan keanekaragaman flora dan fauna, peninggalan sejarah, dan situs arkeolog khususnya megalit. Jika memang fakta riset menerangkan bahwa situs Gunung Padang adalah situs megalitikum tertua di Indonesia, maka hal tersebut tentunya merupakan kebanggaan bersama. Akan tetapi, perlu saya sampaikan juga bahwa situs megalitikum yang ada di Sulawesi Tengah diperkirakan berasal dari 3.000 tahun sebelum masehi. Untuk hal tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah akan membuktikannya melalui riset lebih mendalam lagi,” jelas Faridah dalam rilis yang dikirimkan PPID BRIDA Sulteng, Selasa (11/9/2023).

BACA JUGA :  Menakjubkan, Ditemukan Serbuk Sari Padi berumur 8000 tahun di lokasi Megalitikum Lore Tengah
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Provinsi Sulawesi Tengah Faridah Lamarauna dan Koordinator Tenaga Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi Sulawesi Tengah Haliadi Sadi, SS., M.Hum., Ph.D.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui BRIDA saat ini tengah melakukan riset penyusunan profil dan pemetaan situs megalitikum yang terdapat di empat lembah, yaitu Lembah Bada, Lembah Behoa, Lembah Napu, dan Lembah Palu. Tujuan dari riset ini adalah untuk mengungkap fakta-fakta tentang megalitikum di Sulawesi Tengah, sekaligus mendokumentasikan hasil riset sebagai dukungan untuk penetapan situs megalitikum tersebut menjadi warisan dunia oleh UNESCO.

BACA JUGA :  Ini 4 daftar Megalitikum tertua di dunia, Sulawesi Tengah tidak termasuk

Faridah berharap bahwa riset yang sedang dilakukan dapat memberikan informasi yang lebih jelas mengenai usia dan potensi-potensi lain dari situs megalitikum di Sulawesi Tengah. Ini akan menjadi langkah penting dalam memahami dan melestarikan warisan budaya yang berharga ini.

Di tempat terpisah, Koordinator TACB Sulawesi Tengah, Haliadi Sadi, SS., M.Hum., Ph.D., juga memberikan tanggapannya mengenai perbandingan antara situs Gunung Padang dan situs megalitikum di Sulawesi Tengah. Haliadi menjelaskan bahwa penelitian terhadap kedua obyek ini masih berlangsung dan belum tuntas dilakukan.

Menurut Undang-Undang nomor 11 tahun 2010, status kedua obyek cagar budaya tersebut belum ditetapkan apakah masuk dalam kategori benda, bangunan, situs, struktur, atau kawasan. Selain itu, penanggalan kedua obyek ini juga masih belum memiliki kepastian.

BACA JUGA :  Sulawesi Tengah akan pecahkan misteri Megalit berusia Ribuan Tahun di Poso

“Penelitian yang dilakukan oleh tim Dr. Ardi Wibowo telah melengkapi atau pengembangan penelitian terdahulu. Situs Gunung Padang dikenalkan pertama kali oleh “Rapporten Van De Oudheid-kundigen Dienst tahun 1914, lanjutan dilaporkan Nj. Krom tahun 1949 dan penduduk melaporkan situs ini pada tahun 1979,” ungkap Haliadi.

Haliadi juga merinci bahwa riset geologi yang dilakukan sebelumnya menemukan bahwa Gunung Padang merupakan struktur kekar kolom leher gunung yang kemudian diatur menjadi punden berundak untuk kemungkinan pemujaan tradisional.

Batuan andedit ini diperkirakan 32,30 kurang lebih 0,30 jtl (oligosen bawah). Penelitian ini didasari oleh riset yang dilakukan Sujatmiko 1972 lalu Koesmomo dkk. 1996. Data ini menjadi dasar penting dalam riset lebih lanjut terkait situs ini.***