Tutup
Pelesir

Tiga Hari Berkesan di Sanctum Eko Dive Resort Una Una

×

Tiga Hari Berkesan di Sanctum Eko Dive Resort Una Una

Sebarkan artikel ini
pemilik Sanctum Resort, Mr. Seddric, dan stafnya. (Foto: Ipul)

TIGA HARI dan dua malam yang kami habiskan di Pulau Una Una bersama Wakil Ketua DPRD Tojo Unauna, Moh. Salim Makaruru, pada tanggal 1 Oktober lalu, merupakan sebuah pengalaman yang sangat berharga bagi kami.

Undangan dari Manajemen Sanctum Eko Dive Resort menjadi penghormatan tersendiri yang kami nikmati.

Advertisment
Scroll hingga akhir

Perjalanan kami dimulai dari dermaga Ampana pada pukul 10.30 pagi, menggunakan jasa transportasi kapal speed reguler.

Tepat pukul 11.20, kami tiba di Wakai, sebuah perhentian sebelum mencapai Unauna. Setelah sekitar 30 menit di Wakai, kami melanjutkan perjalanan menuju Una Una dengan menggunakan kapal Sanctum Eco Dive yang telah menunggu kami bersama beberapa wisatawan lain yang memiliki tujuan yang sama. Tepat pukul 13.00, kami akhirnya sampai di Unauna.

Kedatangan kami di Una Una disambut hangat oleh pemilik Sanctum Resort, Mr. Seddric, dan stafnya. Mereka dengan ramah menyajikan makan siang dan teh lemon kepada kami.

Hari pertama di Una Una kami habiskan dengan berkenalan dengan seluruh kru yang bekerja di Sanctum Eko Dive Resort, dan hubungan kami langsung terasa akrab.

pemilik hotel Kayangan Ampana, Hunje Malajai dan Mr. Alex serta Nikki, dua turis asal Belanda, (Foto: Ipul)

Sore hari, kami diajak oleh pemilik hotel Kayangan Ampana, Hunje Malajai dan Mr. Alex serta Nikki, dua turis asal Belanda, untuk berjalan kaki selama sekitar 25 menit.

Tujuan kami adalah Masjid Tua Una Una, sebuah peninggalan sejarah kerajaan Unauna yang berdiri pada awal abad ke-20.

Setelah itu, saya dan Salim Makaruru diajak oleh seorang pemandu wisata lokal bernama Udin untuk melihat cottages baru yang sedang dibangun oleh seorang pengusaha dari Gorontalo.

Tempat ini akan menjadi pusat penyelaman dan akan segera dibuka dalam waktu dekat. Selama kunjungan, kami juga berdiskusi dengan masyarakat setempat mengenai berbagai isu, seperti infrastruktur yang kurang, termasuk lampu penerangan jalan yang belum ada, puskesmas yang belum memiliki bidan selama tiga bulan terakhir, kerusakan jalan, abrasi pantai akibat pengambilan material yang berlebihan, dan masalah hewan ternak yang berkeliaran di tempat-tempat objek wisata.

Masjid Tua Unauna. (Foto: Ipul)

Setelah kembali ke Sanctum, kami diajak oleh Seddric untuk melihat kebun sayur hidroponik di resortnya, serta pengolahan sampah plastik dan kaleng. Mereka menggunakan alat manual untuk menghancurkan plastik dan kaleng sebelum mengirimkannya ke Gorontalo melalui kapal.

Pada malam harinya, kami berdiskusi dengan para karyawan Sanctum serta beberapa warga setempat mengenai upaya pelestarian alam dan lingkungan, baik di darat maupun di laut.

Kami juga mengetahui bahwa di Sanctum terdapat instruktur penyelaman yang sering memberikan pelajaran lingkungan hidup di sekolah khusus untuk anak-anak secara sukarela.

Hari kedua kami juga mengunjungi Pristine Dive Resort Una Una dan mendapatkan banyak informasi serta masukan tentang akses transportasi dari Ampana ke Wakai dan Una Una.

Kami berharap dalam waktu dekat, akses transportasi tersebut akan segera tersedia melalui Touna Ekpress Speed, yang merupakan milik Pemda Tojo Unauna dengan bantuan dari Kemendes.

Hari ketiga, pada pukul 09.00 kami berangkat dari Una Una menuju Wakai, dan akhirnya menuju Ampana.

Perjalanan ini meninggalkan kenangan tak terlupakan tentang keindahan alam dan keramahan penduduk Una Una.

Kami merasa bersyukur atas kesempatan ini dan berharap dapat kembali menjelajahi keindahan pulau ini suatu hari nanti.

 

Tulisan : Saiful Hulungo – Kontributor Tojo Unauna

Silakan komentar Anda Disini….