Ekonomi

Rumput Laut, Komoditi Ekspor Poso Minim Sarana Pendukung

17
×

Rumput Laut, Komoditi Ekspor Poso Minim Sarana Pendukung

Sebarkan artikel ini
Petani Rumput Laut Poso.(Foto: Nurlela/kabarSelebes.id)

POSO, Kabar Selebes – Rumput laut kini jadi komoditi ekspor unggulan Kabupaten Poso. Dua negara jadi tujuan, Jepang dan China. Masalahnya, kelompok masyarakat yang terlibat usaha dan budidaya masih minim dukungan sarana untuk menjaga dan meningkatkan kualitas.

Sumardi Tajuddin, salah satu ketua kelompok budidaya rumput laut di Desa Tokorondo, Kecamatan Poso Pesisir misalnya. Dia menyebut permintaan lahan penjemuran dan perahu khusus panen, sudah beberapa kali diajukan ke dinas terkait namun belum juga direspon.

Menurut Sumardi, menjemur rumput laut yang baru dipanen masih mengandalkan badan jalan lingkungan dan halaman rumah. Itupun beralaskan terpal seadanya.

“Rumput laut terkontaminasi dengan tanah dan jadi kotor, ” ujar Sumardi, awal November lalu.

Kata Sumardi, bila mereka mendapat sarana penjemuran bisa menghasilkan rumput laut berkualitas.

“Saat ini kualitas masih rendah karena penjemuran belum maksimal. Padahal bila ada sarana penjemuran, hasilnya bisa lebih baik dan tentunya berdampak pada meningkatnya penghasilan,” ujar Sumardi lagi.

Panen rumput laut melalui kelompok yang diketuai Sumardi dalam sehari bisa mencapai satu sampai dua ton. “Mereka yang bergabung itu anak-anak muda maupun remaja. Bahkan ada yang masih bersekolah, ” kata Sumardi.

Ramlah, salah seorang ibu rumah tangga di Desa Tokorondo ikut aktif mengikat bibit rumput laut.

“Dalam sehari bisa mengikat sampai 10 tali. Satu tali dihargai lima ribu rupiah, ” kata Ramlah.

Dengan penghasilan mengikat bibit rumput laut bisa membantu keuangan rumah tangga.

Penyuluh perikanan, Husni Tamrin mengatakan komoditi rumput laut mulai dikembangkan sejak tahun 2012. Kelompok budidaya mendapat bantuan sarana dan prasarana berupa tali yang digunakan dalam budidaya. Bantuan diserahkan oleh Kementerian Kelautan Perikanan. Awalnya berdiri enam kelompok.

“Kemudian terus berkembang pada 2020.Saat ini kelompok budidaya semakin banyak, ” kata Husni.

Kata Husni, saat ini lahan budidaya sudah mencapai 80 hektar. Pemilik lahan pun sekitar 80 orang dalam tergabung dalam kelompok-kelompok.

Dari sisi harga, kata Husni, untuk rumput laut basah dijual dua ribu rupiah perkilo dan Rp14 ribu untuk kering.

Hasil rumput laut produksi Desa Tokorondo dan beberapa desa di sekitarnya sudah diekspor ke mancanegara. Dua negara tujuan, Jepang dan Cina.

“Melalui pengepul dari Makassar, rumput laut Tokorondo dikirim ke luar negeri, ” ujar Husni.(nur)