Sulawesi Tengah

PLN Sulteng tengah Bersiap Gunakan Energi Terbarukan di 2030

54
×

PLN Sulteng tengah Bersiap Gunakan Energi Terbarukan di 2030

Sebarkan artikel ini
Yusmar, Team Leader Mapping Data, Jaringan, dan Pelanggan PLN Area Palu, saat menjadi pemateri di Dialog Festival Media 2 Hijau 2023.(Foto: AMAR SAKTI)

PALU, Kabar Selebes – PT Pembangkit Listrik Negara (PLN) di Sulawesi Tengah menjalankan serangkaian proyek pembangunan pembangkit terbarukan sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030. Dalam langkah ambisius ini, PLN menetapkan 12 titik proyek dengan total kapasitas pembangkit sebesar 396 Megawatt (MW).

Adapun proyek-proyek tersebut melibatkan berbagai jenis pembangkit, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dan Pembangkit Listrik Tenaga Matahari (PLTM). Rincian proyek meliputi PLTMG Luwuk (40 MW, 2023), PLTA Poso Peaker (2021), PLTM Tomata (10 MW, operasi 2022), PLTM Karo Kabalo (2,2 MW, operasi 2022), PLTU Palu 3 (2 X 30 MW, 2023), PLTM Koro Yaentu (10 MW, 2024), PLTM Sulbagsel Tersebar (7,4 MW, 2024), PLTM Buleleng (1,2 MW, 2024), PLTM Biak I (2 MW, 2025), PLTM Biak II (1 MW, 2025), dan PLTM Halulai (1,2 MW, 2028).

Yusmar, Team Leader Mapping Data, Jaringan, dan Pelanggan PLN Area Palu, menyampaikan komitmen PLN untuk mencapai netral karbon. Saat ini, produksi listrik mencapai 300 Tera Watt Hour (TWh), dengan target pasar sebesar 1.800 TWh di tahun 2060. Terdapat ruang sebesar 1.380 TWh untuk menambah kapasitas pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT).

“Porsi kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) telah dikurangi sejak 2020. Upaya pensiun pembangkit fosil dimulai pada 2030 dan secara signifikan berkurang pada 2040 setelah kontrak pembangkit tersebut selesai,” jelas Yusmar saat menjadi pembicara di Festival Media 2 Hijau dengan tema Aksi Media untuk Perubahan Iklim dan Energi Baru Terbarukan, Senin (11/12/2023).

Pembangkit nuklir dijadwalkan masuk pada tahun 2040, sambil tetap memastikan keamanan teknologi nuklir. Selanjutnya, rencananya adalah menghentikan seluruh pembangkit listrik tenaga batu bara pada 2056 karena sudah digantikan oleh Energi Baru Terbarukan (EBT). Pengembangan pembangkit EBT akan mengalami peningkatan signifikan mulai 2028 berkat murahnya teknologi baterai.

“Rasio elektrifikasi hingga Oktober 2023 mencapai 99,96 persen dengan jumlah rumah tangga berlistrik mencapai 812.700 dari total 813.026 rumah tangga,” tambah Yusmar.

“Dekade berikutnya, PLN Sulteng memproyeksikan seluruh pembangkit listrik di Indonesia berasal dari EBT, mengukuhkan posisi Indonesia sebagai negara yang berkomitmen pada energi terbarukan,” tandasnya.