Pemprov Apresiasi Dukungan NGO Pascabencana Sulteng

oleh -

PALU, Kabar Selebes – Sekretaris Provinsi Sulteng Dr Moh Hidayat MSi sangat mengapresiasi, atas apa yang yang telah dilakukan beberapa NGO, lembaga UN dan lembaga Nasional lainnnya yang terlibat diberbagai macam klaster yang bekerja di Sulteng selama respon bencana 28 september lalu.

Hal ini disampaikan Hidayat, saat membuka Workshop Hasil Awal dan diskusi Rencana Aksi Riset Remaja Perempuan dan Pemuda di Situasi Bencana di Sulteng di Santika Hotel Palu, Senin (25/06) diikuti pejabat dari Dinas Kesehatan, Lembaga NGO, UN, Lembaga Nasional lainnya dan stakholder terkait.

Selain itu Sekprov Hidayat juga mengatakan, Sulteng yang saat ini sudah bangkit pasca bencana, sesungguhnya bukan hanya dari kerja- kerja Pemerintah namun kebangkitan Sulteng ini juga hasil dari dukungan lembaga-lembaga NGO, UN baik itu Nasional maupun Internasional yang hadir di Sulteng.

“Seandainya jika hanya kami Pemerintah yang menangani hal- hal bencana dan Pasca bencana saya yakin kami pasti belum bangkit sampai saat ini,” kata Hidayat.

Selain itu, pemerintah juga sadari selama ini, ketika terjadi bencana respon pertama kita adalah bagaimana menyiapkan fasilitas dasar, misalnya logistik, shalter, sanitasi dan sebagainya, namun selain itu ada yang sering terabaikan yaitu persoalan remaja, bagaimana mereka difasilitasi bagaimana mereka terlibat membuat keputusan dan sebagainya.

Oleh karena itu perlu ada perhatian khusus untuk penanganan masalah remaja perempuan saat terjadi bencana, karena remaja dan perempuan adalah menjadi korban berikutnya, menjadi trauma berikutnya yang mereka hadapi ketika bencana besar selesai kemudian mereka hidup di pengungsian maupun huntara, yang kemudian ada problem baru disana.

“Namun Alhamdulilah secara perlahan persoalan terkait remaja perempuan di pengungsian bisa teratasi berkat kerjasama antara UNFPA dan lembaga lainnya,” ujarnya.

Selain itu, Kasubdit Kesehatan Usia Sekolah dan Remaja Kemenkes RI Drg. Wara Pertiwi Osing, MA mengatakan, Indonesia merupakan negara yang rentan terhadap bencana.

Terkait situasi krisis kesehatan, Indonesia mempunyai delapan Klaster untuk pnanganan bencana salah satunya ialah klaster kesehatan, dan remaja merupakan kelompok proporsi yang cukup besar.

Namun pemenuhan kebutuhan kelompok ini masih sangat terabaikan saat bencana, padahal saat bencana kelompok remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap resiko gangguan kesehatan, antara lain resiko kekerasan sexual, kekerasan berbasis gander perkawinan anak, atau tertular HIV Aids.

Selain itu pada saat situasi bencana biasanya terjadi ganguan struktur keluarga dan struktur sosial dimana pada situasi ini remaja mungkin terpisah dari keluarga dan komunitasnya.

Iapun pun berharap, kiranya para peserta dan hadirin yang hadir pada workshop ini dapat memanfaatkan pertemuan ini untuk meningkatkan perhatian terhadap pemenuhan hak remaja dan kaum muda khususnya perempuan pada situasi krisis serta meningkatkan koordinasi antar lintas sektor ditingkat pusat maupun daerah,” kata Wara Pertiwi.

Pada Kesempatan yang sama Wakil Kepala UNFPA Indonesia Dr dr Milenia Hidayat MPH, menyampaikan, kegiatan Workhop dan Diskusi ini nantinya akan menyampaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh perempaun dan remaja dalam situasi pengungsian, karena maslah masalah yang dihadapi oleh perempuan remaja dalam keadaan bencana akan semakin berat.

Berdasarkan garis besar studi yang dilakukan, remaja itu mengalami perasaan yang tidak aman, karena ada berbagai hal ancaman antara lain ancaman pelecehan, ancaman tidak mampu beraktualisasi dan lain sebagainya pada situasi pengungsian.

“Mudah mudahan diskusi ini dapat melihat hasil dari study yang telah dilakukan dan kita juga bisa berkesempatan untuk mendiskusikan bagaimana respon terbaik dari pihak terkait agar para pemuda, perempuan remaja kita khususnya yang berada dipengungsian bisa lebih beraktualisasi dan berkontribusi terhadap pembangunan,” ungkap Milenia. (*/patar)

Silakan komentar Anda Disini....
(Visited 31 times, 1 visits today)